13 Mei 2016 - 02:28
Islam yang Berkembang di Indonesia, Islam Moderat Namun Terancam Penetrasi Paham Wahabi

“Jumlah penduduk negara ini hampir mencapai 250 juta jiwa dan sekitar 230 juta orang di antaranya adalah kaum muslim yang sebagian besarnya bermazhab Syafi’i.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani dalam wawancaranya dengan kru kantor berita Hauzah, terkait dengan lawatan terakhirnya ke Indonesia mengatakan, “Jumlah penduduk negara ini hampir mencapai 250 juta jiwa dan sekitar 230 juta orang di antaranya adalah kaum muslim yang sebagian besarnya bermazhab Syafi’i.”

Sekilas tentang karakteristik moral dan perilaku masyarakat Indonesia

Beliau dalam menyinggung sebagian di antara karakteristik-karakteristik moral serta perilaku masyarakat Indonesia mengatakan, “Religius, toleran, pemurah, ramah, sabar, tidak mempersulit antara satu sama lain, tidak cepat marah dan seterusnya adalah di antara karakteristik-karakteristik perilaku masyarakat Indonesia yang bisa kita rasakan dalam berinteraksi dengan mereka.”

Deputi Hubungan Internasional Hauzah Ilmiyah Qom menceritakan, “Sikap toleran dan memaafkan merupakan sifat umum masyarakat Indonesia dan telah menjadi sebuah kultur”.

Mantan konselor kebudayaan Iran di Mesir menyebutkan bahwa “selalu senyum” adalah salah satu ciri khas masyarakat negeri ini, beliau menegaskan, “Walaupun masyarakat Indonesia sedang menghadapi problem keuangan, mereka masih menampakkan senyum dan problem finansial tidak lantas menjadi dalih untuk mereka memperlihatkan wajah murung.”

Pengamat masalah-masalah internasional ini menyebut “selalu merasa cukup(qana’ah)” adalah salah satu sifat masyarakat Indonesia lainnya, Ia mengatakan, “Nabi mulia Islam Saw menyebut qana’ah sebagai modal terbaik manusia dan seluruh masyarakat harus mengikuti cara ini”.

Hujjatul Islam wal Muslimin Zamani dengan menginsyaratkan bahwa beberapa juta kaum syiah hidup di Indonesia mengungkapkan, “Kebanyakan masyarakat Indonesia yang bermazhab syafi’i memiliki relasi dan interaksi yang sangat baik dengan kalangan Syiah; tentu saja alasan terwujudnya interaksi ini adalah sikap moderat kaum Syiah Indonesia.”

Penamaan Khomeini, Muthahhari, Behesyti dll. kepada anak-anak

Beliau dengan mengisyaratkan nama-nama sebagian anak-anak masyarakat Indonesia mengatakan, “Dalam suatu ceramah yang saya lakukan di negara ini, sekelompok masyarakat datang untuk menyampaikan rasa terima kasih mereka dan seorang ibu bertutur kepada saya, “Mohon doakan anak kami, kemudian saya tanyakan nama anaknya, Ia berkata, “Namanya Muthahhari”. Lalu saya katakan, “Muthahhari adalah fam(marga) dan tidak di gunakan sebagai nama; namun Ia balik berkata, “Kami menggunakan beberapa fam seperti Muthahhari, Khomeini, Behesyti dll. sebagai nama untuk anak-anak kami”.

Deputi Hubungan Internasional Hauzah lebih lanjut mengatakan, “Saya kemudian menceritakan kejadian ini kepada perwakilan pemimpin republik Islam Iran di Indonesia, lalu Ia berkata kepadaku, “Saya pernah meyaksikan seorang anak di negeri ini yang namanya Ruhullah Musawi Khomeini dan nama marganya dari Indonesia. “

Mantan konselor kebudayaan Iran di Mesir lebih lanjut menyinggung pula ketegangan baru yang di munculkan kaum Wahabi di negara ini, beliau mengatakan, “Sejak dulu telah ada dua organisasi keagamaan terbesar di negara ini bernama Nahdhatul Ulama(NU) dan Muhammadiyah, dengan alasan adanya beberapa perbedaan di antara keduanya, di bentuklah suatu lembaga bernama Majelis Ulama Indonesia (MUI) guna melakukan pengawasan dan kontrol terhadap kedua organisasi ini dan urusan-urusan kaum muslimin di jelaskan dan di kaji di lembaga ini; namun akhir-akhir ini, aliran wahabi berhasil masuk dan memberi pengaruh di lembaga ini, seorang yang memiliki pemikiran anti-Syiah terpilih menjadi ketua dan berupaya untuk mengeluarkan sebuah surat pernyataan (fatwa) yang dapat mencegah aktivitas-aktivitas kalangan syiah.”

Arab Saudi proaktif untuk keluarnya 10 poin pernyataan anti Syiah Indonesia

Pengamat masalah internasional ini menambahkan, “Sekarang ketegangan ini semakin memuncak di Majelis ini dan Arab Saudi dengan dana yang sangat besar tengah mengupayakan keluarnya surat penyataan 10 poin anti syiah Indonesia”.

Pidato Berani Syaikh al Azhar

Hujjatul Islam wal Muslimin Zamani menyatakan, “Menyongsong terbitnya surat pernyataan (fatwa) tersebut, lembaga ini mengundang Syaikh al Azhar ke Indonesia dan menjadikannya sebagai instrumen persiapan dan pra-kondisi keluarnya pernyataan tersebut; tetapi beliau dalam pidatonya menegaskan bahwa, “Syiah dan sunni merupakan dua sayap kaum muslimin dan Syiah adalah suatu mazhab dalam Islam”.

Beliau memaparkan, “Setelah pidato ini, Syaikh al Azhar yang nampak di undang ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) di mana beliau sebenarnya sedang di panggil untuk mendengarkan kritikan-kritikan mereka terhadap syiah, sesudah pembicaraan mereka, beliau mengatakan, “Perkataan-perkataan kalian tidak punya pijakan ilmiah dan historis”.

Deputi Hubungan Internasional Hauzah di akhir pembicaraannya menyatakan, “Langkah para pengurus MUI selanjutnya adalah mengundang para pejabat Arab Saudi sehingga mereka dapat mengeluarkan surat penyataan ini; tapi berlawanan dengan hal ini, presiden republik Indonesia serta ulama-ulama Sunni moderat menolak serta tidak menyetujuinya.”